Minggu, 08 Maret 2015

Wilton Lily : Intervensi Mematahkan Vonis Mati Dokter

  
    3 Februari 2014, sinar matahari senja memenuhi kamar. Ketika kami masuk, Wilton sedang duduk di tempat tidurnya sambil membaca sebuah buku dengan tenang. Jika tidak melihat tiang infus di sampingnya, anda tidak akan menyangka bahwa ia adalah seorang pasien kanker nasofaring stadium IV.
  Ini Semua Adalah Keajaiban Metode Intervensi
  Wilton yang berusia 46 tahun berasal dari Indonesia. Sebagai seorang pemandu wisata yang berpengalaman, ia telah menginjakkan kakinya di berbagai sudut dunia. Pada akhir bulan Oktober 2013, ia terdiagnosa menderita kanker nasofaring. Ia sempat menjalani kemoterapi di Singapura sebanyak 6 kali. Karena hasilnya yang kurang efektif, dokter menyarankannya untuk menambah jumlah kemoterapi yang harus dijalaninya, ditambah dengan radioterapi, sehingga total ia harus menjalani 33 kali kemoterapi. Saat itu, Wilton merasa ragu, ia tidak ingin melanjutkan kemoterapi. Karena kemoterapi, ia mengalami mual dan muntah, kualitas tubuhnya pun menurun drastis. Saat ia menolak saran dokter, dokter mengatakan : Harus menjalani kemoterapi, kalau tidak hidupmu tidak sampai 2 bulan lagi.
  “Waktu itu saya benar-benar marah dan merasa sangat terpukul. Sehingga saya membulatkan tekad dan pulang ke Indonesia. Istirahat dan menikmati tinggal di rumah. Kemudian, 2 bulan pun berlalu, tetapi tidak ada hal apapun yang saya alami,” ujar Wilton yang menceritakan pengalamannya berobat di Singapura. Ia menggelengkan kepalanya, merasa kecewa dengan apa yang sudah dialaminya.
  Setelah 2 bulan beristirahat, Wilton memutuskan untuk kembali bekerja. Pada September 2014, tiba-tiba kondisinya menurun drastis. “Leher saya kembali bengkak, bawah telinga dan leher bagian tengah pun bengkak,” Wilton menunjukkan leher dan telinganya. Awalnya ia mendengar iklan Modern Cancer Hospital Guangzhou di radio, ditambah kakak dari teman baiknya yang menjalani pengobatan di sini sekarang sudah dalam masa pemulihan. Akhirnya ia pun mencoba berkonsultasi ke kantor perwakilan yang ada di Jakarta. Hasil konsultasi benar-benar menbuat Wilton puas, ia pun memutuskan berangkat ke Guangzhou untuk berobat.
  Ia berangkat ke Modern Cancer Hospital Guangzhou pada hari Jumat. Pada hari Senin, ia sudah dapat merasakan sendiri Intervensi yang dikatakan dokter. “Tak lama setelah Intervensi, saya meraba bagian yang pernah dibiopsi dan dikemoterapi, benjolannya sudah hilang. Intervensi benar-benar ajaib!”
  Wilton juga mengatakan, sebenarnya pada saat berkonsultasi, ia langsung memahami tentang metode Intervensi, “Dokter mengatakan, Intervensi adalah metode yang memasukkan obat tumor melalui pembuluh darah besar di pangkal paha, sehingga berbeda dengan kemoterapi biasa. Kemoterapi biasa itu mencakup seluruh tubuh, semua bagian tubuh akan terkena dampaknya. Sedangkan Intervensi hanya menyerang bagian tumor.” “Pertama kali menjalani Intervensi, saya merasa sangat gugup. Tetapi karena dokter di sini sangat profesional dan penerjemah sangat membantu saya, mereka membantu menerjemahkan keseluruhan proses, terus menenangkan saya, sehingga saya pun menjadi jauh lebih tenang. Awalnya ada sedikit rasa tidak nyaman, tetapi setelah obat dimasukkan, benar-benar tidak ada rasa sakit ataupun ketidak nyamanan. Tindakan berjalan sangat lancar!”
  Berbicara tentang efektifitas pengobatan, Wilton mengatakan, tak lama setelah menjalani Intervensi, 4 tumor di tubuhnya hilang. Walaupun 2-3 hari pasca Intervensi pertama ia mengalami mual, tetapi dokter dan perawat terus menenangkannya serta menyemangatinya untuk makan. Kemudian, dengan menyesuaikan kondisinya, dokter mengganti Intervensi Kemoterapi menjadi Intervensi Nano. Setelah menjalani metode ini, tidak ada efek samping yang ia alami. Efek samping yang pernah ia bayangkan mungkin akibat dari pengalamannya menjalani kemoterapi Singapura. Ia mengatakan : “Walaupun selama tinggal di rumah sakit saya tidak bisa berjalan-jalan keluar seperti dulu, tetapi hasil pengobatan saya sangat efektif, benar-benar sesuai.”

  Sebelum interview ini berakhir, Wilton pun menceritakan tentang rencananya ke depan setelah ia sembuh nanti. Ia berharap dapat menerbitkan sebuah buku, buku tentang pengalaman hidupnya. Ia ingin menuangkan pengalamannya menjalani pengobatan ke dalam buku, agar dapat dibaca oleh pasien kanker di luar sana. Kami berharap semoga mimpinya yang indah dapat segera terwujud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar